Perjalanan Menyusui dan Tantangannya

Perjalanan menyusui tantangannya

Saya mengawali perjalanan menyusui dari awal Agustus 2018. Sudah 4 tahun berturut-turut rupanya dan in syaa Allah perjalanan ini masih akan berlanjut hingga dua tahun ke depan.

Yup, saya baru saja melahirkan anak ketiga pada 1 Agustus 2022 yang bertepatan dengan Hari ASI Sedunia. Eh tapi Bunda sudah tahu belum, peringatan Hari ASI Sedunia tidak hanya diperingati satu hari saja lho melainkan berlangsung selama sepekan yakni 1-7 Agustus setiap tahunnya sehingga dikenal juga dengan nama Pekan ASI Sedunia.

Pekan ASI Sedunia

Hari ASI Sedunia

Saya sendiri baru tahu ada pekan khusus memperingati Air Susu Ibu (ASI) setelah melahirkan anak pertama pada 4 Agustus 2018. Bersyukur saya melahirkan saat pekan ASI masih berlangsung dan menjadi ibu ketika dunia sudah secanggih sekarang.

Sebelumnya saya sempat menganggap sama ASI dan susu formula. Itu karena minimnya ilmu yang saya ketahui. Namun saya tercerahkan berkat kemudahan dalam mengakses informasi tentang ASI dan menyusui. Apalagi pas momen World Breastfeed Week (WBW).

Maraknya kampanye ASI di media sosial pada Pekan ASI benar-benar memberi dampak yang positif khususnya bagi ibu baru seperti saya.

Pekan ASI Sedunia berawal dari gagasan organisasi World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) pada 14 Februari 1991. Gagasan ini lahir seiring dicetuskannya Innocenti Declaration yang diresmikan oleh WHO, UNICEF, pemerintah dari beberapa negara, serta sejumlah organisasi lainnya.

Adanya Innocenti Declaration bertujuan untuk melindungi, mendukung sekaligus mempromosikan gerakan menyusui. Deklarasi ini kemudian diperingati dalam World Breastfeed Week (WBW) atau Pekan ASI Sedunia setiap tanggal 1-7 Agustus.

Pekan ASI Sedunia merupakan sebuah gerakan menyusui secara global yang mendukung para ibu agar bisa menyusui di mana saja dengan nyaman.

Adapun tujuan penyelenggaraan Pekan ASI sedunia adalah untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ASI bagi bayi yang baru lahir.

ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi yang tidak bisa digantikan dengan susu formula terbaik dan termahal sekali pun. Hal ini dikarenakan selengkap apapun nutrisi yang terdapat dalam susu formula tidak akan dapat mengimbangi nutrisi yang terkandung dalam ASI.

Gerakan mengetuk kesadaran orang tua akan pentingnya ASI ini mulai aktif dilaksanakan sejak tahun 1992. Dulu dikampanyekan dari mulut ke mulut atau lewat penyuluhan-penyuluhan oleh orang-orang tertentu.

Sekarang lebih praktis. Bahkan setiap orang bisa ikut berpartisipasi mensukseskan kampanye ASI dengan membuat konten yang diunggah ke medial sosial maupun blog. Bisa berupa tips, pengalaman dan berbagai konten edukASI lainnya.

Dengan kemudahan dalam mengakses informASI di masa sekarang maka seharusnya nggak ada lagi alasan orang tua tidak memberikan ASI kepada bayinya karena kurang ilmu. Tinggal bagaimana mereka mau mengedukASI diri sebagai orang tua.

Eniwei, seperti halnya Hari Keluarga, Hari Anak Nasional dan berbagai peringatan penting lainnya, Hari ASI Sedunia juga mengusung tema khusus setiap tahun.

Tahun 2022 ini World Breastfeed Week mengangkat tema “Step up for Breastfeeding : Educate and Support” atau “Langkah Untuk Menyusui : Edukasi dan Dukungan” yang bertujuan untuk mendorong menciptakan perlindungan dan meningkatkan kesadaran tentang menyusui dan manfaatnya.

Perjalanan menyusui yang penuh tantangan

Setelah melahirkan, bayi saya berhak mendapatkan nutrisi terbaik. ASI adalah haknya yang harus saya penuhi

Berangkat dari pemahaman tersebut saya bertekad kuat untuk mengASIhi anak-anak saya. Modal awal saya hanya niat dan tekad yang bulat. Selebihnya saya ikhtiar mengedukASI diri sendiri dengan memanfaatkan teknologi.

Pada perjalanannya barulah saya menyadari bahwa proses menyusui memang tidak mudah. Banyak tantangannya. Jalannya terjal, penuh lika-liku. Kalau tidak diawali dengan niat dan tekad yang kuat, apalagi tanpa ilmu dijamin Bunda nggak bakal kuat.

That’s why banyak orang tua yang gagal memberikan anaknya full ASI. Sengaja saya sebut orang tua karena pemberian ASI bukan semata-mata tugas seorang ibu, ayah juga memilki peran yang sangat penting.

Bahkan sebenarnya bukan ayah saja, seisi rumah baik orang tua/mertua, saudara dan orang-orang di lingkungan sekitar, semua punya peran dalam mendukung ibu menyusui agar berhasil memberikan ASI secara penuh, setidaknya di 6 bulan pertama kehidupan sang bayi.

Tantangan terberat ada di enam bulan pertama dimana bayi hanya mengonsumsi ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman atau lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif. Setelah lulus ASIX, perjalanan menyusui masih berlanjut hingga 18 bulan ke depan, itu juga tantangannya berat.

Jujurly, saya termasuk orang tua yang belum berhasil memberikan kedua anak saya ASI secara penuh. Saya memang menyusui keduanya hingga dua tahun bahkan lebih namun perjalanan yang awalnya hanya ASI saja di pertengahan bercampur dengan susu yang bukan ASI.

Agak sedih sih ketika saya dengan terpaksa memberikan tambahan susu selain ASI ke anak-anak saya yang masih masa menyusui. But least saya bersyukur bisa memberikan ASI eksklusif ke mereka di 6 bulan pertama dan masih lanjut menyusui hingga 2 tahun lebih dengan berbagai tantangannya.

Eniwei, berikut ini beberapa tantangan yang saya hadapi selama menjalani proses menyusui ;

Tantangan menyusui

Puting lecet, berdarah dan badan remuk

Tantangan yang satu ini pasti dialami oleh semua ibu yang baru pertama kali menyusui. Entahlah kalau ada ibu yang benar-benar bisa mengawali perjalanan menyusui tanpa mengalami puting lecet hingga berdarah.

Malah yang saya tahu, meski si new mom sudah menguasai berbagai posisi menyusui dan tahu pelekatan yang benar sekali pun akan tetap merasa sakit saat pertama kali menyusui.

Momen indah yang saya rasakan di awal menyusui hanya pada saat bertemu dan bersentuhan pertama kali dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan melalui proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Alhamdulillaah kedua anak saya yang lahir lewat persalinan normal bisa mendapatkan IMD.

Nah, yang saya alami waktu IMD ini memang belum ada sakit-sakitnya. Saya baru rasakan puting lecet hingga berdarah itu setelah keluar dari rumah sakit, sekitar 3 atau 4 hari setelah melahirkan. Untungnya nggak sampai kena mastitis.

Jangan ditanya bagaimana rasanya puting lecet, sakitnya minta ampun sampai-sampai saya merasa menyusui lebih sakit dari melahirkan.

Yup, setidaknya sakitnya melahirkan normal saya rasakan hanya pada proses pembukaan yang berlangsung berjam-jam saja, sementara sakitnya menyusui saya alami selama berhari-hari.

Belum lagi dengan badan saya yang seakan remuk setiap kali menyusui. Penyebabnya karena saya masih kaku banget saat menyusui dan belum menemukan posisi yang nyaman atau mungkin lebih tepatnya saya belum tahu posisi menyusui yang benar, nggak ada juga yang ajarin, huhu.

Sudah puting lecet, berdarah pula ditambah lagi dengan badan remuk, gimana saya nggak merasa menderita setiap kali menyusui. Bahkan ketika si bayi menyedot puting, saya seringkali merasa kehidupan saya juga seakan ikut tersedot dan Itu membuat saya seperti ingin mati atau hilang dari muka bumi ini.

Tapi balik lagi, saya ingat niat dan tekad saya, bahwa ASI adalah hak bayi saya, wajib saya penuhi jadi sesakit dan semenderita apapun yang saya rasakan di masa awal menyusui saya tetap harus strong.

Si bayi kolik

Tantangan menyusui berikutnya yang tidak kalah berat adalah ketika si bayi mengalami kolik. Sebelumnya saya juga sudah sering dengar bayi yang baru lahir sering rewel hingga berjam-jam, pun bisa sampai semalaman nangisnya.

Bahkan dulu saya sempat mengira semua bayi akan mengalami fase tersebut. Namun setelah melahirkan anak kedua baru saya percaya, nggak semua bayi yang baru lahir rewel dan suka ajak orang tuanya begadang.

Ada kok bayi yang anteng banget, nyaris nggak pernah rewel atau kalau nangis pun sebentar doang,  paling cuma pas mau nenen atau popoknya penuh saja. Sekadar untuk memberitahu orang tuanya kalau dia lapar atau merasa tidak nyaman.

Nah, kalau ada bayi yang rewelnya berlebihan sampai berjam-jam dan susah ditenangkan maka bisa dipastikan dia mengalami kolik. Itulah yang dialami bayi pertama saya selama kurang lebih tiga bulan.

Bayangkan saja selama itu saya nyaris tidak pernah tidur lelap, tiap malam harus begadang demi nenangin si bayi yang tiba-tiba menolak ketika disodorin nenen.

Pokoknya saya sampai hapal, kalau si bayi menolak menyusu itu pertanda sebentar lagi dia bakalan nangis kejer dan baru akan diam setelah mau nenen kembali.

Masalahnya waktu nangisnya itu lho, lama trus bikin panik. Belum lagi dengan komentar orang-orang yang setiap kali bayi saya nangis dikiranya lapar jadi selalu disuruh kasih nenen padahal jelas-jelas bayinya menolak.

Kalau sudah begitu bermunculanlah komentar-komentar yang bikin saya makan hati. Dibilangin ASI saya kuranglah, dikitlah makanya bayinya rewel, karena nggak kenyang dan bla bla bla.

Uhft. Benar-benar perjuangan banget bila mau sukses menyusui, harus kuat mental!

ASI seret

Masalah ASI seret baru saya alami setelah Zhaf berusia 7 bulan. Diawali dengan kerewelannya setiap malam. Padahal setelah melewati fase kolik dia tidak pernah rewel lagi di malam hari. Paling cuma bangun buat nenen abis itu lanjut tidur.

Perubahan sikapnya yang tiba-tiba suka rewel saat terbangun di malam hari meski sudah dikasih nenen bikin saya curiga. Jangan-jangan asi saya kurang. And then, ternyata benar, produksi ASI saya menurun drastis.

Saat itu kondisi saya lagi hamil anak kedua dan belakangan baru saya ketahui hormon kehamilan dapat mempengaruhi produksi ASI. ‍Well saya merasa bersalah di sini, pengen lancar menyusui Zhaf sampai usia 2 tahun tapi eh sayanya yang nggak program.

Dan meskipun sudah tahu ASI seret saya tetap ngotot menyusui Zhaf tanpa memberikan susu tambahan sampai usianya menginjak 10 bulan.

Untungnya dia sudah MPASI so that di pagi dan siang harinya itu dia nggak rewel. Rewelnya pas malam hari saja karena nggak puas dengan ASI yang dia minum.

Untuk mengatasi rasa laparnya di malam hari saya hanya memberikan air putih. Oh ya beberapa kali pula kejadian saat saya sodorin air eh dianya nolak dan malah lebih memilih mengambil botol berisi air minum yang memang sengaja saya sediakan di dekat tempat tidur. Duh, hati rasanya nyesss banget tapi yah begitulah risikonya.

Masuk usia 11 bulan saya mengalah dan dengan berat hati membiarkan Zhaf minum susu selain susu Bundanya. At least saya bersyukur karena meski produksi ASI saya saat itu tidak dapat menghilangkan dahaga dan laparnya di malam hari namun Zhaf masih mau menyusu hingga menjelang lahiran.

Bahkan setelah melahirkan, saya bisa lanjut menyusui Zhaf bersamaan dengan adiknya, dengan produksi ASI yang kembali normal. Alhamdulillaah perjalanan saya menyusui Zhaf baru berakhir di usianya yang sudah menginjak dua tahun lewat sebulan.

Menyusui saat hamil

Kondisi menyusui saat hamil ini saya alami dua kali yakni saat mengandung anak kedua dan anak ketiga namun dengan tantangan yang berbeda.

Waktu hamil anak kedua, kakaknya masih masa menyusui, usianya belum genap setahun which is kebutuhan Zhaf terhadap ASI masih dominan walau sudah MPASI.

Tantangan yang saya hadapi saat memutuskan untuk tetap lanjut menyusui meski dalam keadaan hamil ya itu tadi, ASI seret, bayi nggak kenyang dan berujung dengan kerewelan setiap malam.

Selain itu, tantangan juga datang dari orang-orang sekitar yang menyuruh saya berhenti menyusui si kakak. I know maksud mereka baik, but selama saya sanggup dan kondisi kehamilan saya baik-baik saja mengapa saya harus berhenti menyusui?

Lagipula si kakak masih punya hak mendapatkan ASI sampai usianya 2 tahun, si kakak juga masih mau menyusu, lantas mengapa saya harus menyapihnya?

Dengan alasan tersebut saya memilih bertahan untuk tetap menyusui anak pertama dalam kondisi hamil.

Nah, tantangan menyusui saat hamil kali kedua beda lagi karena kondisinya saya menemukan dua garis merah pada testpack saat anak kedua menginjak dua tahun which is sudah saatnya dia disapih.

Namun seperti si sulung, saya gagal menyapih Fath tepat di usia 24 bulan. Tadinya mau saya sapih setelah usia Fath dua tahun lebih dikitlah eh malah keterusan hingga usia kehamilan ketiga saya memasuki trimester akhir.

Jujurly bagi saya proses menyapih jauh lebih berat daripada toilet training, that’s why Zhaf dan Fath lebih dulu berhasil lepas popok daripada lepas nenen.

Well, tantangan menyusui Fath sementara saya hamil anak ketiga sebenarnya tidak terlalu berat, selain karena sudah punya pengalaman, Fath juga sudah jarang menyusu. Paling minta nenennya saat mau bobok siang dan di malam hari saja.

Tantangannya juga baru saya hadapi saat sudah hamil tua dimana setiap dia menyusu perut saya terasa sakit seperti mengalami kontraksi.

Karena keseringan mengalami kontraksi ketika menyusui akhirnya saya putuskan untuk sepenuhnya menyapih Fath. Alhamdulillaah prosesnya tanpa drama.

Oh ya ada manfaatnya juga menyapih Fath sebulan sebelum HPL. Efeknya saya rasakan setelah melahirkan, ASI langsung keluar, bahkan di hari kedua sudah lancar.

Menyusui dua bayi

Menyusui satu anak saja sudah berat apalagi dua anak? Yap, memang berat banget tapi asal disertai dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat pasti bisa dijalani. Saya sudah membuktikannya.

Alasan utama saya memutuskan untuk tandem nursing karena Zhaf masih punya hak untuk mendapatkan ASI hingga usianya dua tahun.

Selain itu saya ingin tetap membangun bonding lewat proses menyusui, baik ikatan antara saya dengan Zhaf dan Fath maupun ikatan antara si kakak dan adik yang jarak usianya hanya terpaut 16 bulan.

Tandem nursing ini saya jalani selama kurang lebih sembilan bulan dengan berbagai tantangannya. Saat memutuskan untuk lanjut menyusui si kakak sekaligus dengan adiknya, banyak yang menentang.

Seolah tandem nursing merupakan hal yang tabu untuk dilakukan. Mereka pun melarang dengan alasan yang tidak masuk akal. Konon katanya, kalau menyusui kakak dan adik bersamaan akan membawa dampak buruk. Si kakak akan tumbuh jadi anak idiot, sementara pertumbuhan si adik juga akan terganggu.

Ok, saya tahu itu cuma itu mitos, makanya saya nggak mau pusing dengan omongan orang-orang. Bahkan saking nggak mau dengar komentar macem-macem saya sempat menyusui diam-diam.

Bagi saya, untuk urusan tandem nursing ini merupakan pilihan dan meski semua keluarga menentang asal ada dukungan dari suami saja sudah cukup.

Sekali lagi saya tahu maksud mereka baik, tapi saya yang menjalaninya, saya juga yang menerima konsekuensinya. Dari awal saya sudah tahu bakal ada drama yang saya hadapi selama tandem nursing. Dan saya siap menghadapi drama itu, so what?

Bersyukur anak kedua saya waktu baru lahir nggak alami kolik seperti kakaknya. Anteng banget anaknya. Saking antengnya sampai jarang  didengar tangisannya. Ini juga yang bikin proses menyusui dua bayi saya berjalan lancar.

Itu dia berbagai tantangan yang saya hadapi selama menjalani proses menyusui. Mulai dari puting lecet, ASI seret hingga tantangan menyusui saat hamil dan lanjut dengan tandem nursing.

Kalau diingat-ingat, rasanya nggak nyangka saja saya bisa melewati semua tantangan tersebut hingga sampai di tahap ini. Berat tapi buktinya bisa saya jalani. Modalnya itu tadi, niat, tekad dan juga ilmu.

Penutup

Selamat Pekan ASI Sedunia.

Perjalanan menyusui bukan perjalanan yang mudah. Karena itu idealnya kita tidak bisa menempuh perjalanan ini sendiri. Harus ada support system dari semua pihak. Dukungan dari suami, orang tua/mertua, saudara, teman dan orang-orang sekitar.

Bentuk dukungan itu, walau berupa 1 kalimat positif saja sudah sangat berharga. Sebaliknya, 1 kalimat negatif yang terucap bisa menjadi penyebab gagalnya seorang ibu memenuhi hak bayinya untuk mendapatkan ASI eksklusif.

Saya yakin Bunda pasti setuju dengan pernyataan tersebut. Faktanya, keberhasilan dalam memberikan ASI sangat bergantung pada suasana hati ibu menyusui (busui).

Busui nggak boleh stres, nggak boleh banyak pikiran, harus BAHAGIA karena hanya dengan begitu produksi ASInya bisa lancar.

Di momen Pekan ASI Sedunia ini yuk kita dukung para ibu menyusui untuk tetap semangat dan strong dalam menjalankan kewajibannya memenuhi hak bayi untuk mendapatkan nutrisi terbaik di 6 bulan pertama kehidupannya dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.

Mohon doanya juga semoga perjalanan saya menyusui anak ketiga berhasil hingga lulus ASIX dan ASIXX.

Sekian Jurnal Bunda kali ini. Kalau ada Bunda yang ingin sharing pengalaman atau tantangan yang dihadapi saat menyusui boleh dong tinggalkan jejak di kolom komentar.

Tentang Penulis

Halo, selamat datang di blog jurnal bunda. Tempat bunda berbagi cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *