Belajar dari Kisah Eril, Pulang Hanya Membawa Amal

Belajar dari kisah Eril

Emmeril Kahn Mumtaz. Nama yang begitu indah. Nama yang baru saya dengar setelah tubuhnya hanyut terbawa sungai Aare.

Eril, begitulah orang-orang biasa memanggilnya. Nama itu seketika akrab di telinga saya semenjak kabar hilangnya ramai dibicarakan para netizen di media sosial.

Eril dinyatakan hilang terbawa arus kencang sungai Aare, Swiss pada 26 Mei 2022. Saat itu Eril tengah berenang bersama adik dan salah seorang kawannya.

Ketika hendak naik ke darat Eril mendahulukan adik dan kawannya. Memastikan mereka selamat sampai di atas baru kemudian ia menyusul. Namun tiba-tiba arus kencang sungai Aare menyeretnya.

Eril kemudian dinyatakan hilang. Pencarian dilakukan oleh Tim SAR Swiss selama berhari-hari namun tubuh Eril tak kunjung ditemukan.

Pada tanggal 3 Juni 2022 pihak keluarga mengikhlaskan dan menyatakan Eril wafat. Meski demikian pencarian jasad Eril tetap berlanjut sampai batas yang tidak ditentukan.

Qadarullaah, jasad Eril akhirnya ditemukan di Bendungan Engehalde di Bern, Swiss pada 8 Juni setelah hampir 2 pekan hilang di Sungai Aare. Jasadnya kemudian dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan pada 13 Juni 2022.

Demikian kronologis singkat hilangnya Eril yang begitu mengundang duka di hati jutaan orang.

Siapa Eril?

Eril bukan siapa-siapa. Namun berita kehilangannya sungguh menyita perhatian semua orang di negeri ini. Setiap hari, update berita terkait  pencarian Eril selalu dinanti-nantikan.

Betapa banyak orang yang melangitkan doa untuk Eril. Semua orang berharap Eril dapat ditemukan dalam keadaan masih bernyawa. Walau kemungkinan itu sangatlah tipis.

Eril bukan siapa-siapa. Namun ketika orang tuanya mengumumkan kematian Eril, bahwa mereka telah mengikhlaskannya sekalipun jasad anak sulungnya itu belum ditemukan, ada ribuan bahkan jutaan orang yang terisak, hati mereka tersayat, serasa ikut kehilangan.

Eril bukan siapa-siapa. Banyak yang tidak mengenalnya semasa hidup. Namun kabar kehilangan hingga kematiannya sontak melambungkan namanya. Ya, nama Eril baru terkenal setelah nyawanya tiada.

Satu Indonesia berduka. Semua yang tidak mengenalnya ikut bersedih, bahkan menitikkan air mata.

Seolah pemuda yang hilang dan ditemukan dalam keadaan tidak lagi bernapas itu adalah anak mereka, saudara mereka, sahabat mereka.

Padahal siapa Eril? Bukankah semasa ia hidup kita tidak mengenalnya? Lantas kenapa kepulangannya menghadap Tuhan begitu menyayat sekaligus menghantam kita dengan rasa cemburu.

Bunda yang mengikuti kabar tentang Eril sejak dinyatakan hilang hingga ditemukan pasti tahu, kepulangan Eril untuk selama-lamanya ke Sang Pencipta tidak hanya meninggalkan duka melainkan juga suka.

Faktanya, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah seorang pemuda biasa bernama Emmeril Kahn Mumtadz di akhir hidupnya.

Mari kita belajar dari kisah Eril.

Belajar dari Kisah Eril

Mengutip dari penuturan ayahnya, kisah tentang Eril hakikatnya adalah kisah tentang kita semua. Hakikat bahwa kita semua pasti akan pulang dengan waktu, tempat dan cara yang kita tidak akan pernah tahu.

Kepulangan adalah keniscayaan. Setiap jiwa akan pulang ke Pemiliknya. Namun kapan, dimana dan bagaimana kepulangan kita kelak masih merupakan misteri. Tugas kita cukup mempersiapkan diri.

Hidup di dunia ini sesungguhnya adalah tentang perjalanan bukan tujuan. Dan seperti cerita setiap perjalanan atau kisah selalu dimulai dari sebuah titik awal . Dan kisah akan selesai di titik akhir. Dan untuk setiap yang datang pasti ada saatnya untuk kembali pulang.

Agar perjalanan selamat, maka petunjuk jalan dan bekalnya harus kita siapkan. Petunjuk jalan adalah keimanan dan bekal perjalanan adalah anfauhum linnas yaitu tas berisi pahala amal-amal kebaikan kita

Kepulangan yang begitu Indah

Sebaik-baik kepulangan adalah pulang menemui Tuhan dalam keadaan husnul khatimah.  In syaa Allah Eril menemui Rabbnya dalam keadaan yang sangat baik.

Dalam Islam, orang yang meninggal karena tenggelam termasuk golongan orang yang mati syahid, sebagaimana yang disabdakan Rasul.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914)

Ya, Allah menakdirkan Eril meninggal karena tenggelam. Itu artinya Eril wafat sebagai syuhada. In syaa Allaah tempat orang yang mati syahid adalah surga.

Selain itu, Allah juga menjaga jasad Eril. Walau sudah lebih dari 14 hari tenggelam namun ketika ditemukan tubuhnya masih utuh, lengkap, tidak kurang satu apa pun, bahkan jasadnya wangi seperti wangi daun Eucalyptus.

“Wanginya itu seperti daun yang direbus, ada paper mint trus dicium, itulah harumnya Eril” begitu penuturan ayahnya ketika mengenang cerita tentang Eril di acara Mata Najwa.

Maa syaa Allaah, benar-benar mukjizat yang luar biasa. Bayangkan, mayat yang ditemukan 3-4 hari hari saja pasti sudah mengeluarkan aroma busuk. Apalagi kalau mayat itu berada di dalam air, secara akal sehat pastinya sudah tidak berbentuk atau bisa saja hancur karena dimakan hewan buas.

Lha Eril? Sudah 14 hari tenggelam lho tetapi ketika ditemukan mayatnya masih utuh dan juga wangi.

Kenapa jenazah Eril bisa tetap utuh dan wangi? Ternyata ini ada penjelasan ilmiahnya.

Kuasa Allah. Tidak hanya cara-Nya memanggil Eril yang indah, melainkan tempat kepulangan yang Dia tetapkan untuk Eril juga sangat indah, yakni di Sungai Aare yang memiliki suhu air sangat dingin berasal dari lelehan di Pegunungan Alpen. Dingin suhu airnya juga lah yang membuat sungai terpanjang di Swiss ini minim dari binatang buas.

Suhu air sungai Aare yang sangat dingin membuat jasad Eril setengah beku dan terhindar dari bahaya binatang sehingga tetap utuh walau sudah dua pekan tenggelam.

Seperti penjelasan ilmiah yang dituliskan Ayah Eril lewat media sosialnya, Sungai Aare yang sedingin kulkas dan minim fauna, membuat jasadnya terjaga setengah membeku sehingga tetap utuh lengkap walau berada di dasar sungai selama 14 hari.

Tidak sampai di situ, kepulangan jasad Eril ke tanah air juga luar biasa mengundang haru. Disambut oleh ribuan orang.

Bahkan di sepanjang jalan dari rumah duka di Gedung Pakuan tempat almarhum disemayamkan hingga ke pemakaman semua warga berdiri memberikan penghormatan terakhir. Belum terhitung orang-orang yang ikut mengantar jenazahnya ke peristirahatan terakhir.

Sungguh kepulangan yang begitu indah.

Keikhlasan orang tua

“Istri yang kehilangan suaminya disebut janda. Suami yang kehilangan istrinya disebut duda. Anak yang kehilangan orang tuanya disebut yatim. Tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anak. Betapa menyakitkannya kehilangan ini.”

Kutipan dari drakor Hi, Bye Mama! di atas sontak viral di tengah kasus pencarian Eril yang hilang di Sungai Aare.

Seperti itulah kira-kira yang dirasakan ayah dan ibunya Eril. Benar-benar tidak bisa digambarkan betapa hancurnya perasaan mereka. Kehilangan yang teramat berat.

Namun saya begitu salut dengan ketegaran kedua orang tua Eril yang di hari ketujuh lepas insiden tengelam itu memilih untuk ikhlas sepenuh hati melepaskan anaknya dan menyatakan Eril telah meninggal sekalipun jasad si sulung belum ditemukan.

Keputusan yang tidak mudah karena sama seperti melepaskan harapan. Selama Eril belum ditemukan, selama itu pula ada harapan, bukan? Walau sepertinya mustahil Eril masih hidup setelah berhari-hari tenggelam, namun apa salahnya berharap?

Of course tidak salah, akan tetapi jauh lebih baik memilih ikhlas pada ketetapan Tuhan. Inilah sikap tawakkal yang diambil orang tua Eril.

Keikhlasan itu bukan bentuk putus asanya mereka melainkan upaya memasrahkan diri pada Allah.

Mereka telah berdoa sepenuh hati, telah ikhtiar semaksimal mungkin. Selanjutnya yang memang harus dilakukan sebagai seorang mukmin adalah tawakkal. Serahkan semuanya pada Allah karena manusia punya keterbatasan.

Hasil dari doa, ikhtiar dan tawakkal itu berbuah manis. Eril akhinya ditemukan dalam keadaan yang sangat baik. Walau tidak lagi bernyawa tapi kepulangan Eril meninggalkan banyak hikmah dan membuat ayah ibunya justru bersyukur.

Anak Gubernur yang gemar berbuat kebaikan

Sengaja dari awal saya tidak menyebutkan siapa orang tua Eril. Tidak disebut sama sekali pun sepertinya tidak masalah karena semua orang kini tahu bahwa Emmeril Kahn Mumtadz adalah anak sulung dari Ridwan Kamil dan Atalia Praratya.

Siapa yang tidak mengenal Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang sering disapa Kang Emil dan istrinya yang akrab dipanggil Bu Cinta?

Sebagai anak dari orang nomor 1 di Jawa Barat tentu Eril memiliki privelege di lingkungan dimana ia tumbuh. Namun privelege tersebut tidak lantas membuatnya tinggi hati.

Justru sebaliknya, Eril malah tidak suka membawa-bawa nama orang tuanya. Ia lebih suka menjalani hidup sebagai pemuda biasa yang rendah hatinya.

Tidak sekali pun ia menonjolkan dan membanggakan dirinya sebagai anak pejabat. Bahkan dosen dan teman-temannya sendiri pun banyak yang tidak tahu kalau Eril adalah anak dari Gubernur Jawa Barat.

Privelege Eril untuk berbagai kebaikan
Foto : @ataliapr

Ya, Eril lebih memilih menggunakan priveleg-nya itu dengan berbuat kebaikan. Ia dikenal sebagai pemuda yang gemar berbagi kebaikan.

Menurut cerita ayahnya, Eril pernah titip sepatu saat ia tengah berada di Spanyol. Si ayah sempat heran karena sepatu yang dipesan Eril bukan ukurannya. Belakangan baru beliau tahu ternyata sepatu tersebut dihadiahkan Eril untuk satpam sekolah.

Selain itu Eril juga suka keluar di malam hari tanpa sepengetahuan keluarganya dengan tujuan untuk berbagi kepada para tunawisma. Ia juga suka membelikan baju kepada anak yatim.

Rahasia Amalan Eril

Dari Eril kita belajar
Foto : @emmerilkahn

Apa amalan Eril hingga kepulangannya menghadap Rabb begitu indah? Wafat dalam keadaan syahid, didoakan oleh jutaan orang, pun begitu banyak orang yang mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhir.

Bahkan setelah tiada pun jejak kebaikan Eril masih tetap‎ hidup dan dikenang?

Ketika diwawancara oleh Najwa Shihab, Kang Emil cerita bahwa setelah kematian Eril, satu per satu kebaikan anaknya itu mulai terkuak.

Dari testimoni atau pengakuan orang-orang yang pernah ditolong Eril, Kang Emil dan keluarganya akhirnya menemukan bahwa secara spritual Allah memuliakan Eril di hari pulangnya karena semasa hidup Eril telah menanam banyak kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan Eril sedeharna. Sesederhana ketika ia makan di warung ayam geprek, makannya seharga 30 ribu tapi ia sengaja membayar dengan uang 50 ribu dan memberikan uang kembaliannya pada si ibu penjual. Kebaikan itu ternyata membekas kuat di memori si ibu.

Lebih lanjut ayahnya membeberkan tiga rahasia amalan Eril yaitu :

  • Ahli minta maaf, Eril tidak pernah sungkan meminta maaf jika ia bersalah. Bahkan sekali pun tidak berbuat kesalahan, Dia akan menunjukkan bahasa tubuh seolah meminta maaf karena tidak ingin menyinggung perasaan atau hati orang lain.
  • Ahli sedekah diam-diam, Eril sangat suka berbagi kebaikan pada orang lain. Dia suka diam-diam keluar tengah malam untuk memberi makan para tunawisma. Dia juga suka membelikan baju untuk anak yatim dan menjadi donatur tanpa diketahui namanya. Ketika tangan kanannya bersedekah sebisa mungkin dia berusaha agar tangan kirinya tidak mengetahui.
  • Ahli berterima kasih, tidak hanya meminta maaf , Eril juga dikenal sebagai anak yang suka berterima kasih. Termasuk berterima kasih kepada orang-orang yang ikut mengulurkan tangan atau berdonasi untuk mendukung program Jabar Zillenial yang merupakan komunitas tempatnya berbagi aksi kemanusiaan dan pendidikan bersama anak muda Jabar.

Amal kebaikan yang terus mengalir setelah kepulangannya

Jejak eril tanam benih kebaikan berbunga indah di Surga
Foto Sketsa Eril : @_drawingmagic

Selepas kepulangan Eril menghadap Ilahi, doa-doa untuknya masih terus mengalir. Begitu pula dengan amal kebaikannya semasa hidup yang menjelma keberkahan setelah Eril tiada.

Keluarganya diundang oleh pemerintah Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Tahun ini juga Eril menyempurnakan rukun iman yang kelima melalui fisik dan jiwa ayahnya. Keinginan Eril yang ingin berkurban di Palestina juga telah ditunaikan.

Selain itu, tepat di hari kelahirannya pada 25 Juni muncul GEBERKAHN (Gerakan Kebaikan dan Keberkahan) yang pemberian namanya diambil dari nama tengah Eril.

Adanya gerakan ini terinspirasi dari kebiasaan Eril yang semasa hidup suka berbagi dan menolong. Tujuannya adalah untuk mengajak anak muda berbagi kebaikan dan keberkahan dengan cara apa pun di lingkungan terdekat. Setiap tanggal 25 Juni nantinya, orang-orang akan mengenang Eril melalui GEBERKAHN.

Tidak hanya itu, orang-orang juga akan mengenang kebaikan Eril ketika berkunjung ke Masjid Al Mumtadz yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Lokasi masjid tersebut bersebelahan dengan tempat peristirahatan terakhir Eril yakni di Cimaung Bandung Jawa Barat.

Masjid Al Mumtadz disiapkan dan didesain langsung oleh ayahnya. Kang Emil menjelaskan bahwa masjid ini didesain dengan konsep butiran-butiran air hujan yang turun dari langit sebagai berkah dan  rahmat dan dari atas seolah ada 2 tangan yang merangkul sesama.

Masjid ini memang secara istimewa disiapkan Kang Emil untuk Eril sehingga namanya pun diambil dari nama terakhir Eril, Al Mumtadz yang artinya adalah “terbaik”. Nantinya masjid ini akan menjadi pusat pelatihan anak-anak muda Indonesia untuk menjadi ahli berbagi dan sedekah sesuai semangat Eril dan juga sebagai Pesantren Tahfidz Qur’an untuk anak-anak.

Lihatlah, benih-benih kebaikan yang Eril tanam di dunia telah menjadi bunga-bunga indah di surga.

Pulang hanya membawa amal

Satu lagi pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Eril sekaligus menjadi pengingat bahwa semua yang kita miliki di dunia ini sifatnya fana. Untuk itu nggak perlu mati-matian mengejar dunia karena yang kita peroleh di dunia ini tidak akan kita bawa ke dalam kubur.

Seperti yang disampaikan Bu Cinta dalam wawancara bersama Najwa Shihab, ketika hendak turun ke sungai Eril melepas semua barang mewah yang dimilikinya. Jam tangan, hape. Semua dia lepaskan. Yang dia pake hanya baju di badan untuk menutup aurat.

Bahkan pada saat saya pulang ke Indonesia. Saya melihat barang-barang Eril semuanya, apakah itu Hp, laptopnya bahkan saya lihat ijazahnya dan segala macemnya dari akta lahir dan yang lainnya. Saya sampai menangis, ini tuh nggak ada artinya, yang Eril bawa itu nggak ada kaitannya dengan dunia sama sekali dalam bentuk fisik. Yang ia bawa hanya amal, nah ini yang membuat saya berpikir ya kalau begitu bekal saja yang kita butuhkan

Penutup

Dari kisah Eril kita bisa memetik banyak pelajaran. Eril adalah pemuda biasa, yang meskipun ayahnya adalah seorang Gubernur tidak lantas membuatnya angkuh.

Dia adalah pemuda dengan kepribadian yang sederhana. Orang-orang mengenalnya sebagai pemuda yang gemar berbagi dan suka menolong. Bahkan dia selalu berusaha menyembunyikan setiap kebaikan yang dilakukan.

Padahal Eril punya privelege atas kekuasaan maupun kekayaan yang dimiliki orang tuanya, namun dia tidak suka pamer. Dia lebih memilih menggunakan takdir istimewa itu untuk menolong orang lain.

Siapa sangka, waktu Eril di dunia begitu singkat. Namun seperti kata sang Ayah, mungkin umur biologis Eril hanya 23 tahun, namun dengan luasnya amal kebaikannya, in syaa Allaah sungguh ia pergi dalam panjang umur.

Di usianya yang masih sangat muda Eril telah menanam begitu banyak benih kebaikan di dunia. Benih itu kini telah menjelma bunga-bunga indah di surga.

Eril telah memetik apa yang ia tanam selama di dunia. Betapa Allah memuliakan hari kepulangannya. Wafat dalam keadaan syahid. Jasadnya terjaga dan wangi walau sudah tenggelam berhari-hari. Didoakan oleh jutaan orang. Bahkan meskipun raganya tak ada lagi di dunia ini jejak kebaikan Eril masih terus mengalir.

Ketika ditanya apa rahasia amal Eril, ayahnya menjawab dia ahli pemaaf, ahli bersedekah dan juga ahli bersyukur. Ya, di usia yang masih sangat muda Eril telah menyiapkan bekal akhiratnya dengan sebaik mungkin sehingga dia akhirnya bisa menemui Tuhannya dalam keadaan husnul khatimah.

Lantas bagaimana dengan kita? Adakah bekal yang sudah kita persiapkan?

Ah, dari Eril kita belajar, kelak ketika kita dipanggil pulang menghadap Sang Pencipta yang kita bawa pun hanya bekal akhirat berupa amal kebaikan kita semasa hidup di dunia

Tentang Penulis

Halo, selamat datang di blog jurnal bunda. Tempat bunda berbagi cerita.

2 Comments

  1. […] ini, mau itu pangkat, harta, keluarga, gelar dan lain sebagainya tidak ada yang kita bawa mati. Belajarlah dari Kisah Eril yang pulang hanya membawa bekal berupa amal […]

  2. […] dari viralnya kisah Eril, putra sulungnya yang wafat tenggelam di sungai Aare dan didoakan oleh jutaan orang saya jadi […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *