Cara Membandingkan Anak dengan Baik

cara membandingkan anak dengan baik

Setiap orang tua perlu mengetahui cara membandingkan anak dengan baik. Hal ini penting pasalnya membandingkan anak sudah menjadi sifat alami manusia.

Sejak kecil orang tua kita sudah sering membandingkan kita dengan kakak, adik, sepupu, anak tetangga atau teman yang sebaya dengan kita.

Setelah menjadi orang tua, kita pun mengikuti kebiasaan tersebut. Entah dilakukan dengan sadar atau tanpa disadari, membandingkan anak sudah menjadi kebiasaan turun temurun yang susah dihilangkan.

Harus saya akui, saya pun kerap membandingkan anak saya sendiri. Membandingkan si kakak dengan adik atau sebaliknya. Sering khilaf pula membandingkannya dengan anak orang lain.

Padahal kalau boleh jujur, saya sendiri tidak suka jika ada orang lain yang membandingkan anak saya dengan anaknya. Apalagi menyangkut tumbuh kembang anak.

Anak-anak pun demikian. Akan ada perasaan tidak suka yang muncul di hati mereka jika sering dibandingkan. Ya, tidak dimungkiri kebiasaan membandingkan satu anak dengan anak yang lain akan memberikan dampak buruk bagi anak tersebut.

Dampak buruk membandingkan anak

Sebagai orang tua kita pasti ingin anak kita memiliki perilaku yang baik dan tumbuh menjadi anak yang berprestasi. Namun apa yang kita harapkan pada anak kita sering tidak berjalan sesuai ekspektasi.

Misalkan, salah satu anak kita sering usil mengganggu saudara atau temannya yang lain, tidak mau berbagi, malas mengerjakan PR, memiliki nilai ulangan yang rendah, dan lain sebagainya.

Dengan perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan itu kita bermaksud baik ingin menegurnya namun seringkali kita bingung bagaimana agar anak kita dapat bersikap baik.

Lantas karena saking bingungnya mengubah tingkah si anak, kita dengan mudah celetuk seperti ini;

“Coba lihat adikmu, tidak pelit . Ada makanannya mau berbagi ” 

Kakak kenapa malas belajar sih, itu adikmu rajin banget lho. Tanpa disuruh mau belajar sendiri, lha kamu kerjaannya main trus?”

“Kakak kok nilai ulangannya jelek gini, itu si Rama tadi ibunya cerita nilainya  dapat 100. Kakak kok nggak bisa dapat nilai sempurna seperti Rama”

Ya ampun kakak pekerjaan sekecil ini saja tidak becus, padahal bunda dulu seusiamu sudah bisa kerjakan semua pekerjaan rumah”

Ketahuilah Bunda, dengan menjadikan saudara atau anak lain sebagai contoh bahkan membandingkannya dengan diri kita yang dulu pun tetap dapat menggoreskan luka di hati anak.

Dampaknya anak bisa mengalami stres, malu, dan menjadi tidak percaya diri (minder). 

Selain itu kebiasaan ini juga dapat menimbulkan kecemburuan, iri dan dengki terhadap teman yang sering dibandingkan dengannya. Termasuk memicu persaingan antara saudara bila sering dibandingkan dengan saudaranya sendiri.

Bahkan yang lebih parah jika anak sudah mulai menghakimi dirinya sendiri, mengakui bahwa dirinya memang malas, nakal, bodoh, dan lain-lain.

Padahal tujuan kita membandingkan adalah untuk memotivasi dirinya agar berubah menjadi lebih baik.  Namun alih-alih anak dapat berperilaku baik, yang ada mentalnya hancur dan dipatahkan oleh orang tuanya sendiri.

Lalu bagaimana kalau misalkan kita bandingkan anak kita dengan anak  lain yang perilaku dan kecerdasannya tidak lebih baik dari anak kita. Apakah boleh membesarkan hati anak?

“Nah begitu dong Kakak, anak pintar, jangan kayak si Danu, selalu rangking terakhir karena malas belajar”

Kalau cara membandingkannya seperti ini, orang tua juga tetap harus berhati-hati, karena dampaknya tidak kalah berbahaya. Dapat membuat anak menjadi tinggi hati, sombong dan mudah merendahkan orang lain yang berada di bawahnya.

Sebenarnya sah-sah saja kalau kita ingin memuji anak atas prestasi atau sikap baiknya tapi jangan sampai berlebihan apalagi dan membawa-bawa nama anak lain dengan maksud membandingkan

Nah, kalau begitu berarti kita tidak boleh membandingkan anak sama sekali ya? Boleh kok, tapi harus dengan cara yang benar.

Seperti yang sudah disinggung di atas, sudah menjadi sifat alami manusia untuk selalu membandingkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. 

Hobi membandingkan ini memang sangat sulit dihilangkan, terlebih sudah jadi kebiasaan turun-menurun. Namun tenang saja, ada solusinya kok Bund.

Kalau memang kita tidak bisa menahan diri untuk membandingkan, bandingkanlah anak kita dengan cara yang baik. Bagaimana caranya? Simak jawabannya berikut ini ya.

Cara Membandingkan anak dengan baik

Tuhan menitipkan anak yang sempurna pada kita, kita lah yang lalu melabeli anak dengan sebutan bodoh, kita lah yang lalu melabeli mereka dengan sebutan nakal. Percayalah tidak ada produk Tuhan yang gagal. Kitalah yang perlu berusaha memahami mereka. Bukan anak kita yang harus diganti cara-cara kita memperlakukan anak lah yang perlu diperbaiki. @anakjugamanusia

Tips membandingkan anak ini saya dapat dari buku @AnakJugaManusia karya Angga Setiawan.

Caranya adalah dengan tidak memperbandingkan dengan anak lain melainkan dengan dirinya sendiri ketika melakukan hal-hal positif.

Maksudnya apa?

Iya, jadi kalau hari ini anak kita melakukan hal yang tidak baik, kita bandingkan dengan dirinya sendiri ketika melakukan hal-hal baik di hari-hari sebelumnya.

Nah, tugas kita sebagai orang tua adalah mengumpulkan semua file kebaikan atau hal positif yang pernah dilakukan anak. Karena file tersebutlah yang akan menjadi senjata kita untuk membandingkan dengan dirinya sendiri.

Berikut teknik membandingkan anak yang disampaikan Angga melalui bukunya :

  1. Saat anak melakukan hal yang baik dan positif sekecil apapun itu tetap harus kita apresiasi, meskipun itu hanya berupa pujian sederhana. Contoh jika ia berbuat baik pada adiknya segera puji iya dengan kata-kata positif. “Maa syaa Allaah, baiknya anak bunda mau berbagi sama adiknya”, “Nah, seperti itu dong Kak. Jadi kakak gak boleh suka berantem sama adek, disayang adeknya, nggak boleh dipukul”
  2. Saat anak mau tidur di malam hari ulangi lagi dengan jelas dan detail perbuatan baik yang telah ia lakukan seharian disertai dengan ucapan terima kasih. Misal, “Kakak terima kasih ya, hari ini Kakak sudah melakukan hal yang sangat terpuji. Waktu adik menangis karena terjatuh kakak sudah bantu beritahu ke bunda, kakak juga menghibur adik supaya tidak menangis lagi. Bunda dan Ayah bangga deh sama kakak” Akan lebih baik lagi jika pujian tersebut disertai dengan pelukan atau sentuhan kasih sayang.
  3. Lakukan langkah pertama dan kedua secara rutin. Jika rutin kita lakukan  Radar kita akan menjadi kuat sehingga dengan begitu kita bisa memasukkan memori ke anak tentang file berjudul berbuat baik kepada adik.
  4. Pastikan anak memiliki banyak memori dengan judul file-file positif seperti berbuat baik pada adik, rajin belajar, rajin membantu orang, tidak pelit atau suka berbagi, belajar mandiri dan lain sebagainya. Fungsinya adalah saat anak kita melakukan hal buruk kita tidak perlu  lagi marah-marah atau membanding-bandingkan dengan anak lain karena kita sudah mempunyai senjata atau alat bantu yang berupa file-file positif di memori anak dengan begitu nah dengan begitu kita tinggal memanggil memori yang pernah kita tanam sebagai perilaku-perilaku baik saat anak berperilaku tidak baik.

Nah, begitulah teknik membandingkan anak yang efektif yaitu dengan dirinya sendiri saat pernah berperilaku baik atau positif. Bukan membandingkan dengan orang lain yang malah bisa semakin memperburuk perilaku anak.

Dengan begitu anak juga tidak akan merasa terintimidasi, justru ia akan merasa “Oh iya ya kan aku pernah berbuat baik tentunya aku pun bisa berbuat baik lagi”

Namun jika kebaikan-kebaikan kecil yang anak kita lakukan terlewatkan begitu saja oleh kita maka dari mana ia tahu jika ia baru saja berbuat baik.

Cara ini sangat bermanfaat sekali sekaligus menjadi solusi bagi orang tua yang masih suka membanding-bandingkan anak. Tentunya juga jadi reminder bagi saya pribadi.

Yuk, Bund, mulai sekarang stop bandingkan anak kita dengan siapa pun. Cukup jadikan kebaikan atau hal-hal positif yang ia lakukan sendiri yang menjadi contoh. 

Insya Allaah dengan cara ini anak akan terhindar dari dampak buruk akibat sering membandingkan anak dengan anak yang lain. 

Semoga ulasan tentang cara membandingkan anak dengan baik ini dapat bermanfaat.

Salam Hangat,

Tentang Penulis

Halo, selamat datang di blog jurnal bunda. Tempat bunda berbagi cerita.

3 Comments

  1. […] fokus pada keluarga sendiri. Tidak perlu membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain karena setiap keluarga punya kisah kehidupannya […]

  2. […] sehingga tidak perlu dibanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Cukup bandingkan anak dengan cara yang baik yaitu dengan dirinya […]

  3. […] hamil anak pertama, saya bahkan bisa melewati Ramadan tanpa bolong […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *